Aksara JawaCARÈTANA PERANG LÈSAP
ꦕꦫꦺꦠꦤꦥꦼꦂꦫꦁꦭꦺꦯꦥ꧀
KISAH PERANG LÈSAP
Pada zaman dahulu, konon di masa Pangeran Cakraningrat kelima masih bertahta di Keraton Bangkalan, terdapat seorang putra agung dan sangat sakti, bernama Lèsap.
Lèsap dilahirkan di desa Pocong, sekarang masuk ke dalam Kecamatan Tragah. Ia tidak mengetahui ayahnya, karena sejak kecil ia hanya berdua di rumahnya dengan ibunya yang bernama Nyai Pocong.
Semua orang iba dan kagum pada Lèsap, karena ia halus dalam bertutur kata dan sopan santun. Ia juga taat beragama dan sering bertapa.
Saat remaja, Lèsap menyatakan pada ibunya, bahwa ia ingin tahu dan berjumpa dengan ayahnya. Sang ibu pun menangis dan berkata bahwa ayah Lèsap adalah Raja Bangkalan, yang tak lain adalah Pangeran Cakraningrat kelima. Ibunya pun mengizinkannya untuk bertemu sang ayah.
Keesokan harinya, Lèsap berangkat ke keraton Bangkalan. Ia diizinkan masuk ke kediaman raja. Ketika berjumpa, raja Bangakalan bertanya, “siapa Kamu, ada perlu apa padaku?”. Lèsap menjawab, “Saya putra Anda, ibu saya adalah Nyai Pocong. Saya ingin berjumpa dengan Anda”.
Cakraningrat pun gembira karena dapat bertemu dengan Lèsap. Raja pun menganugerahkan desa Pejagan untuk ditempati Lèsap. Desa ini dekat dengan benteng VOC, sehingga setiap hari Lèsap melihat VOC menyiksa rakyat dan membuat susah rakyat kecil. Ia tak kuasa melihatnya, lalu berangkatlah ia menuju ke Bukit Geger untuk bertapa.
Saat bertapa di Geger, banyak orang berdatangan pada Lèsap. Setiap hari semakin banyak. Orang-orang yang berkumpul ini adalah mereka yang pernah dianiaya oleh VOC. Lèsap pun semakin tak terima, dan berniat untuk melawan VOC.
Dari Geger, Lèsap mengumpulkan banyak pengikut. Setelah itu, ia dan para pengikutnya ini berangkat ke Sumenep lewat jalur utara. Pada setiap daerah, orang-orang yang mengikutinya semakin banyak. Mereka pun berhenti di Bukit Payudan dan segera bertapa.
Setelah bertapa, Lèsap dan para pengikutnya menyerang Sumenep. Pangeran Sumenep melarikan diri ke Surabaya. Orang-orang pun memberi julukan Pangeran Sumenep ini sebagai Pangeran Lolos. Sebenarnya, orang-orang Sumenep juga melarat karena adanya VOC. Prajurit Lèsap pun juga mengepung benteng VOC di Sumenep, jadinya penduduk Sumenep pun sudi membela dan mengikuti Lèsap.
Sewaktu di Sumenep, Lèsap menginap selama satu malam. Orang-orang pun berkata, “Èson ngènep, èson ngènep” (Saya menginap, saya menginap), yang kemudian disebut Sumenep.
Keesokan harinya, Lèsap menyerang Pamekasan. Adikara, Raja Pamekasan sedang berada di Jawa, sehingga orang-orang Pamekasan langsung takluk semuanya, tunduk pada Lèsap. Di Pamekasan, Lèsap meninggalkan bekas, sehingga penduduk menyebutnya Pamekasan, dari bekas yang ditinggalkannya.
Adikara tidak terima kotanya diserang oleh Lèsap, sehingga ia pun pulang ke Madura bersama prajuritnya. Saat Adikara tiba di Bhulangan, prajurit Lèsap pun menghadang. Mereka bertempur dan Adikara gugur di sana.
Lèsap dan pasukannya maju ke Sampang. Orang-orang Sampang langsung takluk semua, tanpa melawan padanya. Sampang pun hanya disimpangi saja oleh Lèsap. Kemudian orang-orang menyebutnya sebagai Sampang, karena disimpangi oleh Lèsap.
Setelah itu, Lèsap terus maju ke Blega. Orang-orang di sana pun tidak melawan padanya, langsung menyerah. Sehingga ia pun berbalik, orang-orang pun menyebut “abhâligghâ, abhâligghâ” (berbalik, berbalik), yang sekarang menjadi Blega.
Tidak ada yang dapat mengalahkan Lèsap, sehingga prajuritnya semakin hari semakin banyak. Kemudian mereka menyerang Bangkalan, khususnya ke benteng VOC. Cakraningrat Kelima pun terkejut, karena Lèsap menyerang kotanya, yang disangkanya akan melawan ke ayahnya sendiri. Pasukan Cakraningrat pun bertempur melawan pasukan Lèsap.
Lèsap terlalu sakti, sehingga pasukan Cakraningrat dikalahkan olehnya. Benteng VOC turut dikepung oleh prajurit Lèsap. Ia begitu sakti karena memiliki pusaka kodhi crancang, yang dapat terbang sendiri mencari musuhnya.
Cakraningrat melarikan diri ke Mlajah. Raja Bangkalan ini mengetahui bahwa anaknya begitu sakti, yang tidak bisa dikalahkan jika ia masih membawa pusaka kodhi crancang. Cakraningrat pun memerintah para mantrinya, untuk mencari seorang gadis cantik dari Sidayu. Setelah gadis itu datang pada Cakraningrat, ia pun dirias dan diantarkan pada Lèsap.
Gadis itu pun menurut dan segera berangkat pada Lèsap. Setibanya di sana, gadis itu menyampaikan bahwa ia hadir sebagai tanda menyerahnya Raja Bangkalan. Tak jauh dari mereka, datang pula berbondong-bondong orang Bangkalan yang membawa bunga, gamelan dan lain-lain. Lèsap percaya bahwa Bangkalan memang sudah ditaklukkan.
Lèsap pun menerima gadis tersebut di Burneh. Ia menyukai gadis itu, sehingga orang-orang pun menyebutnya, “lèbur ka orèng binè’" (menyukai perempuan). Tempat itu pun disebut sebagai Burneh.
Lèsap dan gadis itu berjalan terus menuju Bangkalan. Lèsap lupa membawa pusakanya, karena sudah terkena tipu daya perempuan. Setibanya di Tonjung, orang-orang menyambut mereka sembari menuntun dan melantunkan kidungan (ètonton bân èkèjhungè). Kemudian daerah itu disebut Tonjung.
Lèsap terus berjalan ke barat. Saat tiba di Junok, ia melihat ayahnya. Ia begitu gembira, karena mengira ayahnya akan menerimanya lagi setelah perang. Ia pun diantarkan oleh banyak orang ke ayahnya. Sang ayah, Cakraningrat kelima langsung menombak Lèsap, memakai pusaka Sè Nangghâlâ yang juga sangat sakti. Tusukan tombak itu mengenai perut Lèsap. Orang-orang yang melihatnya menyebut “èjhujjhu perro’na marono’” (ditusuk hingga perutnya keluar), sehingga menjadi julukan daerah itu, yakni Junok.
Lèsap pun dibawa ke Bangkalan dan gugur di sana. Orang-orang pun menyebut “bhângka la’an, bhângka la’an”, yang artinya sudah tewas, sudah sirna. Kemudian tempat itu pun disebut Bangkalan.
✎ MUHAMMAD RIZKI TAUFAN773 kata
Baca Dongeng