Karya Peserta

Dongeng yang hidup dalam enam aksara.

Jelajahi karya yang telah lolos verifikasi panitia. Karya yang masih menunggu pemeriksaan belum tampil di sini.

11 karya.

Ilustrasi sampul I Kĕdasih
Aksara Bali

I Kĕdasih

ᬳᬶᬓᭂᬤᬲᬶᬄ᭟

I Kĕdasih kĕdis cĕrik ane mayus tur matingkah jele ngajal timpalne. I Kĕdasih kedis cĕrik ane mamusuh ngajak soroh kĕdis cerik ane ĕlenan. Ane paling sasai ajaka mamusuh I Plinjak. I Plinjak kĕdis cĕrik soroh kĕdis kapecit. I Plinjak ngajak I Kĕdasih mamusuh sangkaning sĕsai nyuwang bĕngbĕngane wiadin sĕbune I Plinjak, tur taluh I Plinjake ulunganga tĕken I Kĕdasih. Sangkaning buka keto, I Planjak tangkil ngalih kĕlihan kĕdise I Kukugan ngalih panĕpas. Kasangkĕpang lantas sarwa kĕdise kadulurin pangarah baan I Bĕlatuk wireh ia dadi tukang arah lan tukang ngulkul. Pamutus pasangkĕpane I Kĕdasih kasĕpekang tur tusing ada ane ngajak matimpal sawireh solahne jĕle kapining timpal.

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul Legenda Gunung Merapi
Aksara Jawa

Legenda Gunung Merapi

ꦭꦺꦒꦼꦤ꧀ꦝꦒꦸꦤꦸꦁꦩꦼꦫꦥꦶ

Dongeng ini menceritakan asal-usul gunung Merapi. Dimana ada dua empu yang mempertahankan apa yang sudah mereka buat. Dan Dewa utusan yang juga berusaha untuk melaksanakan perintah dari Sang Batara Guru. Lalu bagaimana akhir dari perjalanan mereka?

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul Puteri tandampalik
Aksara Bugis

Puteri tandampalik

ᨄᨘᨈᨙᨑᨗ ᨈᨉᨇᨒᨗᨀᨛ

Dikisahkan dari tanah luwu.seorang puteri yang cantik bernama tandampalik.sangat di cintai rakyatnya. Suatu hari.. Tandampalik menderita penyakit kulit yang menular.hingga harus terasingkan ke suatu tempat .supaya rakyatnya tidak tertular. Keajaiban terjadi ketika puteri tandampalik bertemu dengan kerbau putih yang suka menjilatinya.alhasil..puteri tandampalik sembuh dari sakitnya

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul Tukang Awungan
Aksara Bali

Tukang Awungan

ᬢᬸᬓᬂᬳᬯᬸᬗᬦ᭄᭟

Satua Tukang Awingan nyaritayang ada kone desa ane tonden ngelah carik, desane ĕnto tuah ngĕlah tĕgalan dogen. Di desane totonan liyu pĕsan ada ĕntikan punyan woh-wohan, awanan buka keto desane kaadanan desa Buahan. Sarahina krama desane magarapan dadi pĕtani di tĕgale, nuju musim hujan liyu kramane ane nanem padi gaga. Padi gagane yening suba matuwuh 100 kantos 125 dina suba dadi anyi. Disubane manyi padi gaga, liyu kramane dot nanem padi biasa wiadin ngelah carik ditu lantas kramane parum tur mutusang lakar ngae ĕmpĕlang apang nyidayang ngĕmbahang yeh ka desane. Disubane pragat ĕmpĕlane ditu lantas kramane ngadĕgang prajuru subak, tur ngarĕrĕh tukang awingan apanga ngidang yehe nĕkĕd di desa. Kautus lantas silih tunggil krama subake ngalih tukang awungan, disubane maan tur sanggup kramane lakar ngupahin tukang awungane. Tukang awungan ĕnto madan Jro Pasĕk uli Desa Kangin ane suba kaloktah bisa ngae awungan. Sakewala disubane pragat awungane ada biyuta sangkaning upah awungan, ngĕmasin kanti ka pangadilan.

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul I Taru Sana
Aksara Bali

I Taru Sana

ᬳᬶᬢᬭᬸᬲᬦ

I Putu marasa sebet sawiréh timpal-timpalné di sekolah ngajak ngomong ritatkala ada ané ulatina. Rikala ia nyebetang undukné buka kéto sambilanga ngangonang sampiné, I Pekak nuturin I Putu satua I Taru Sana. I Pekak mabesen apang I Putu satata lascarya matatulung tekén anak lénan buka geginané I Taru Sana.

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul Suara Jangih
Aksara Bali

Suara Jangih

ᬲ᭄ᬯᬭᬚᬗᬶᬄ᭟

Carita Suara Jangih puni nyaritayang anak cĕrik ri kala nĕdĕng libur masekolah sawusan kasaman (kenaikan kelas) maadan I Wayan Lampa lan I Made Yama. Ipun ajaka dadua matimpal rakĕt pisan kadi anak suba manyama tugĕlan. Sĕdĕk dina anu I Lampa dot pisan kĕnĕhne bangun tĕngai sakewantĕn, sangkaning rame wentĕn suaran kĕdis miwah suara jangih saking sawan ai ane ngranayang ia magadeplak I Lampa bangun. Disubane bangun raris ia ngojog ka natah pakarangannyane, riantukan mirĕng kĕringan jangih pisan dot manahnyane uning, buron napi sayuwaktine sane masuara ngĕring jangih punika. Santukan dot pisan uning napi sayuwaktine buron punika, I Lampa nakenin memen ipune, tur kacawis buron sane ngamedalang suara jangih punika mawasta sawan ai. I Lampa dot uning sapunapi goban burone punika, raris ipun ngalihin buron punika ring tĕgalan samping pakarangan ipune. Ri sĕdĕk ngalihin sawan ai rauh I Yama nakenin I Lampa. I Lampa ngorahang ring I Yama, ipun sĕdĕk ngalihin sawan ai, irika raris I Yama sarĕng ngarĕrĕh sawan aine punika. Ipun sareng kalih ngarĕrĕh sawan ai santukan dot pisan uning sapunapi goban tur caran burone punika ngamĕdalan suara jangih.

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul Asal mula Desa Tebat karai
Aksara Ulu (Rejang)

Asal mula Desa Tebat karai

ꥆꤼꤾ꥓ ꤸꥈ ꤾ ꤴꥉ ꤼ ꤳꥉ ꤷ ꤳ꥓ ꤰ ꤽ ꤿ꥓

Ada seorang petani bernama karai, awalnya hanya memiliki satu petak sawah yang digarap, karena Rajin akhirnya menjadi petani sukses, namun lama - lama ia menjadi sombong. Hingga akhirnya pada suatu hari dafanah seorang pengemis yang ingin meminta makanan karena daerah itu sedang dilanda musim paceklik, hanyalah pak karai yang punya banyak makanan. Pak karai tak memberi dan pengemis tua pun berdoa hingga petir menyambar dan menenggelamkan harta pak karai, semua binasa sehingga terbentuklah sebuah Tebat dan lama kelamaan menjadi Desa Tebat karai.

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul CARÈTANA PERANG LÈSAP
Aksara Jawa

CARÈTANA PERANG LÈSAP

ꦕꦫꦺꦠꦤꦥꦼꦂꦫꦁꦭꦺꦯꦥ꧀

KISAH PERANG LÈSAP Pada zaman dahulu, konon di masa Pangeran Cakraningrat kelima masih bertahta di Keraton Bangkalan, terdapat seorang putra agung dan sangat sakti, bernama Lèsap. Lèsap dilahirkan di desa Pocong, sekarang masuk ke dalam Kecamatan Tragah. Ia tidak mengetahui ayahnya, karena sejak kecil ia hanya berdua di rumahnya dengan ibunya yang bernama Nyai Pocong. Semua orang iba dan kagum pada Lèsap, karena ia halus dalam bertutur kata dan sopan santun. Ia juga taat beragama dan sering bertapa. Saat remaja, Lèsap menyatakan pada ibunya, bahwa ia ingin tahu dan berjumpa dengan ayahnya. Sang ibu pun menangis dan berkata bahwa ayah Lèsap adalah Raja Bangkalan, yang tak lain adalah Pangeran Cakraningrat kelima. Ibunya pun mengizinkannya untuk bertemu sang ayah. Keesokan harinya, Lèsap berangkat ke keraton Bangkalan. Ia diizinkan masuk ke kediaman raja. Ketika berjumpa, raja Bangakalan bertanya, “siapa Kamu, ada perlu apa padaku?”. Lèsap menjawab, “Saya putra Anda, ibu saya adalah Nyai Pocong. Saya ingin berjumpa dengan Anda”. Cakraningrat pun gembira karena dapat bertemu dengan Lèsap. Raja pun menganugerahkan desa Pejagan untuk ditempati Lèsap. Desa ini dekat dengan benteng VOC, sehingga setiap hari Lèsap melihat VOC menyiksa rakyat dan membuat susah rakyat kecil. Ia tak kuasa melihatnya, lalu berangkatlah ia menuju ke Bukit Geger untuk bertapa. Saat bertapa di Geger, banyak orang berdatangan pada Lèsap. Setiap hari semakin banyak. Orang-orang yang berkumpul ini adalah mereka yang pernah dianiaya oleh VOC. Lèsap pun semakin tak terima, dan berniat untuk melawan VOC. Dari Geger, Lèsap mengumpulkan banyak pengikut. Setelah itu, ia dan para pengikutnya ini berangkat ke Sumenep lewat jalur utara. Pada setiap daerah, orang-orang yang mengikutinya semakin banyak. Mereka pun berhenti di Bukit Payudan dan segera bertapa. Setelah bertapa, Lèsap dan para pengikutnya menyerang Sumenep. Pangeran Sumenep melarikan diri ke Surabaya. Orang-orang pun memberi julukan Pangeran Sumenep ini sebagai Pangeran Lolos. Sebenarnya, orang-orang Sumenep juga melarat karena adanya VOC. Prajurit Lèsap pun juga mengepung benteng VOC di Sumenep, jadinya penduduk Sumenep pun sudi membela dan mengikuti Lèsap. Sewaktu di Sumenep, Lèsap menginap selama satu malam. Orang-orang pun berkata, “Èson ngènep, èson ngènep” (Saya menginap, saya menginap), yang kemudian disebut Sumenep. Keesokan harinya, Lèsap menyerang Pamekasan. Adikara, Raja Pamekasan sedang berada di Jawa, sehingga orang-orang Pamekasan langsung takluk semuanya, tunduk pada Lèsap. Di Pamekasan, Lèsap meninggalkan bekas, sehingga penduduk menyebutnya Pamekasan, dari bekas yang ditinggalkannya. Adikara tidak terima kotanya diserang oleh Lèsap, sehingga ia pun pulang ke Madura bersama prajuritnya. Saat Adikara tiba di Bhulangan, prajurit Lèsap pun menghadang. Mereka bertempur dan Adikara gugur di sana. Lèsap dan pasukannya maju ke Sampang. Orang-orang Sampang langsung takluk semua, tanpa melawan padanya. Sampang pun hanya disimpangi saja oleh Lèsap. Kemudian orang-orang menyebutnya sebagai Sampang, karena disimpangi oleh Lèsap. Setelah itu, Lèsap terus maju ke Blega. Orang-orang di sana pun tidak melawan padanya, langsung menyerah. Sehingga ia pun berbalik, orang-orang pun menyebut “abhâligghâ, abhâligghâ” (berbalik, berbalik), yang sekarang menjadi Blega. Tidak ada yang dapat mengalahkan Lèsap, sehingga prajuritnya semakin hari semakin banyak. Kemudian mereka menyerang Bangkalan, khususnya ke benteng VOC. Cakraningrat Kelima pun terkejut, karena Lèsap menyerang kotanya, yang disangkanya akan melawan ke ayahnya sendiri. Pasukan Cakraningrat pun bertempur melawan pasukan Lèsap. Lèsap terlalu sakti, sehingga pasukan Cakraningrat dikalahkan olehnya. Benteng VOC turut dikepung oleh prajurit Lèsap. Ia begitu sakti karena memiliki pusaka kodhi crancang, yang dapat terbang sendiri mencari musuhnya. Cakraningrat melarikan diri ke Mlajah. Raja Bangkalan ini mengetahui bahwa anaknya begitu sakti, yang tidak bisa dikalahkan jika ia masih membawa pusaka kodhi crancang. Cakraningrat pun memerintah para mantrinya, untuk mencari seorang gadis cantik dari Sidayu. Setelah gadis itu datang pada Cakraningrat, ia pun dirias dan diantarkan pada Lèsap. Gadis itu pun menurut dan segera berangkat pada Lèsap. Setibanya di sana, gadis itu menyampaikan bahwa ia hadir sebagai tanda menyerahnya Raja Bangkalan. Tak jauh dari mereka, datang pula berbondong-bondong orang Bangkalan yang membawa bunga, gamelan dan lain-lain. Lèsap percaya bahwa Bangkalan memang sudah ditaklukkan. Lèsap pun menerima gadis tersebut di Burneh. Ia menyukai gadis itu, sehingga orang-orang pun menyebutnya, “lèbur ka orèng binè’" (menyukai perempuan). Tempat itu pun disebut sebagai Burneh. Lèsap dan gadis itu berjalan terus menuju Bangkalan. Lèsap lupa membawa pusakanya, karena sudah terkena tipu daya perempuan. Setibanya di Tonjung, orang-orang menyambut mereka sembari menuntun dan melantunkan kidungan (ètonton bân èkèjhungè). Kemudian daerah itu disebut Tonjung. Lèsap terus berjalan ke barat. Saat tiba di Junok, ia melihat ayahnya. Ia begitu gembira, karena mengira ayahnya akan menerimanya lagi setelah perang. Ia pun diantarkan oleh banyak orang ke ayahnya. Sang ayah, Cakraningrat kelima langsung menombak Lèsap, memakai pusaka Sè Nangghâlâ yang juga sangat sakti. Tusukan tombak itu mengenai perut Lèsap. Orang-orang yang melihatnya menyebut “èjhujjhu perro’na marono’” (ditusuk hingga perutnya keluar), sehingga menjadi julukan daerah itu, yakni Junok. Lèsap pun dibawa ke Bangkalan dan gugur di sana. Orang-orang pun menyebut “bhângka la’an, bhângka la’an”, yang artinya sudah tewas, sudah sirna. Kemudian tempat itu pun disebut Bangkalan.

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul Air Suci yang Ditemukan, Makna yang Dirasakan
Aksara Bali

Air Suci yang Ditemukan, Makna yang Dirasakan

ᬳᬳᬶᬃᬲᬸᬘᬶᬬᬂᬤᬶᬢᭂᬫᬸᬓᬦ᭄᭞ᬫᬓ᭄ᬦᬬᬂᬤᬶᬭᬲᬓᬦ᭄᭟

Perjalanan singkat Wayan dan Konyong di sebuah désa Urip Amertha yang menyusuri jalan setapak di sawahnya untuk mencari daun pakis. Wayan penasaran dengan sesuatu yang ada di semak, karena saking rimbunnya, ia berinisiatif akan membersihkan, karena petuah dari seorang nénék misterius. Setelah tempat itu bersih, terlihat sebuah air pancoran dan sebuah pelinggih. Air pancoran tersebut dinamakan Tirtha Bumi, keajaiban pun terjadi, karena dapat menyembuhkan penyakit dari seorang warga yang tak kunjung sembuh. Warga désa pun menjaga dan merawat tempat tersebut.

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul Alas Pagesangan
Aksara Bali

Alas Pagesangan

ᬳᬮᬲ᭄ᬧᬕᭂᬲᬗᬦ᭄᭟

Alas Pagesangan merupakan hutan yang mengelilingi sebuah desa yang terletak di kaki gunung padelengan. Desa tersebut bernama Desa Pucangan, desa yang sangat asri dan indah. Hutan yang rindang sungai yang jernih serta mata air yang melimpah menyebabkan Desa Pucangan sangat subur, segala yang ditanam warga desa berhasil dengan hasil yang bagus. Hamparan sawah yang berundak menambah keasrian desa serta keramahan warganya menjadikan desa ini sangat damai. Awalnya masyarakat desa memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil kebun dan sawah. Karena perkembangan jaman banya anak-anak muda dari Desa Pucangan bersekolah dan bekerja di kota, berbekal dengan pengalaman di kota mereka membawanya ke Desa. Setelah sekian lama desa mulai dikenal oleh masyarakat lain dan banyak yang berkunjung ke Desa Pucangan untuk melihat keasrian desa. Dengan ramainya pengunjung memunculkan pekerjaan baru dan penghasilan yang bari bagi masyarakat. Tetapi Desa Pucangan juga menghadapi masalah yang baru, pembangunan dan alih fungsi lahan terjadi sangat pesat, kepercayaan masyarakat desa dilanggar, kekacauan sering terjadi. Akibatnya air sungai tercemar, mata air mengering, desa menjadi kering dan panas, sehingga sering terjadi kebakaran jika musim panas dan pada musim penghujan terjadi longsor dan banjir bah. Setelah banyak bencana akhirnya masyarakat mulai sadar dengan kesalahannya dan kembali menanam pohon mengembalikan kehijauan hutan dan mengembalikan lahan persawahan dan perkebunan sesuai fungsinya. Setelah sekian lama masyarakat mulai melihat hasilnya dan desa mulai damai dan asri.

Baca Dongeng
Ilustrasi sampul Nyarah Layangan
Aksara Bali

Nyarah Layangan

᭚ᬜᬭᬄᬮᬬᬗᬦ᭄᭟

Cerita ini menggambarkan dua sahabat kecil yaitu i made jopa dan ketut jepi yang mempunyai hobi bermain layangan dan keduanya dihadapkan pada satu permasalahan ketika mereka mendapati layangan orang lain yang jatuh, apakah diambil atau dengan jujur dan ikhlas dikembalikan kepada pemilik layangan tersebut.

Baca Dongeng