Contoh Struktur Karya • Aksara Bali

Penjaga Hutan dan Burung Kecil

ᬧᭂᬜᬕ ᬳᬸᬢᬦ᭄ ᬤᬦ᭄ ᬩᬸᬭᬸᬂ ᬓᭂᬘᬶᬮ᭄

Penulis contoh: Ayu Lestari Asal: Bali Sasaran: 8–12 tahun 271 kata Jenis: orisinal
!
Contoh teknis, bukan karya yang dapat langsung diikutsertakan.

Halaman ini sudah menunjukkan seluruh komponen yang diwajibkan. Konversi aksara dibuat secara otomatis untuk mockup dan wajib diperiksa ahli aksara sebelum dipakai sebagai contoh resmi. Peserta tetap wajib menulis naskahnya sendiri dan menyerahkan deklarasi bahwa naskah tidak dibuat dengan AI.

Dongeng dalam Aksara Bali

Seluruh naskah di bawah disimpan sebagai karakter Unicode, bukan gambar.

ᬤᬶ ᬧᬶᬗᬶᬃ ᬤᭂᬲ ᬢᬫᬦ᭄ ᬲᬭᬶ ᬢᭂᬭ᭄ᬤᬧᬢ᭄ ᬳᬸᬢᬦ᭄ ᬓᭂᬘᬶᬮ᭄ ᬬᬂ ᬫᭂᬗᭂᬮᬶᬮᬶᬗᬶ ᬲᭂᬩᬸᬅᬄ ᬧᬸᬭ ᬢᬸᬅ᭟ ᬮᬸᬄ ᬓᭀᬫᬂ ᬲᭂᬭᬶᬂ ᬫᭂᬦᭂᬫᬦᬶ ᬓᬓᭂᬓ᭄ᬜ ᬫᭂᬫᭂᬭ᭄ᬲᬶᬳ᭄ᬓᬦ᭄ ᬚᬮᬦ᭄ ᬲᭂᬢᬧᬓ᭄ ᬫᭂᬦᬸᬚᬸ ᬧᬸᬭ᭟ ᬓᬓᭂᬓ᭄ ᬲᭂᬮᬮᬸ ᬩᭂᬭ᭄ᬧᭂᬲᬦ᭄ ᬩᬳ᭄ᬯ ᬳᬸᬢᬦ᭄ ᬩᬸᬓᬦ᭄ ᬲᭂᬓᬤᬃ ᬓᬸᬫᬸᬮᬦ᭄ ᬧᭀᬳᭀᬦ᭄᭞ ᬫᭂᬮᬇᬦ᭄ᬓᬦ᭄ ᬭᬸᬫᬄ ᬩᬕᬶ ᬩᬸᬭᬸᬂ᭞ ᬓᬸᬧᬸ-ᬓᬸᬧᬸ᭞ ᬢᬸᬧᬇ᭞ ᬤᬦ᭄ ᬲᬸᬫᭂᬃ ᬅᬇᬃ ᬬᬂ ᬫᭂᬗ᭄ᬳᬶᬤᬸᬧᬶ ᬲᬯᬄ ᬯᬭ᭄ᬕ᭟

ᬲᬸᬅᬢᬸ ᬲᭀᬭᭂ᭞ ᬮᬸᬄ ᬓᭀᬫᬂ ᬫᭂᬦᭂᬗᬃ ᬲᬸᬅᬭ ᬮᬶᬭᬶᬄ ᬤᬭᬶ ᬩᬯᬄ ᬧᭀᬳᭀᬦ᭄ ᬩᭂᬭᬶᬗᬶᬦ᭄᭟ ᬲᭂᬏᬓᭀᬃ ᬩᬸᬭᬸᬂ ᬓᭂᬘᬶᬮ᭄ ᬩᭂᬭ᭄ᬯᬭ᭄ᬦ ᬘᭀᬓᭂᬮᬢ᭄ ᬢᭂᬭ᭄ᬚᬢᬸᬄ ᬤᬭᬶ ᬲᬭᬗ᭄ᬜ᭟ ᬲᬮᬄ ᬲᬢᬸ ᬲᬬᬧ᭄ᬜ ᬢᭂᬭ᭄ᬓᭂᬦ ᬕᭂᬢᬄ ᬤᬦ᭄ ᬩᬸᬮᬸᬜ ᬤᬶᬧᭂᬦᬸᬳᬶ ᬲᭂᬭ᭄ᬧᬶᬳᬦ᭄ ᬧ᭄ᬮᬲ᭄ᬢᬶᬓ᭄᭟ ᬮᬸᬄ ᬓᭀᬫᬂ ᬫᭂᬫᬯᬜ ᬓᭂ ᬩᬮᭂ ᬓᭂᬘᬶᬮ᭄᭞ ᬫᭂᬫᭂᬭ᭄ᬲᬶᬳ᭄ᬓᬦ᭄ ᬲᬬᬧ᭄ᬜ ᬤᭂᬗᬦ᭄ ᬅᬇᬃ ᬳᬗᬢ᭄᭞ ᬮᬮᬸ ᬫᭂᬫᬸᬅᬢ᭄ ᬢᭂᬫᬢ᭄ ᬇᬲ᭄ᬢᬶᬭᬳᬢ᭄ ᬤᬭᬶ ᬅᬜᬫᬦ᭄ ᬤᬉᬦ᭄ ᬓᭂᬮᬧ᭟

ᬲᭂᬮᬫ ᬩᭂᬩᭂᬭᬧ ᬳᬭᬶ᭞ ᬩᬸᬭᬸᬂ ᬇᬢᬸ ᬩᭂᬮᬸᬫ᭄ ᬤᬧᬢ᭄ ᬢᭂᬭ᭄ᬩᬂ᭟ ᬮᬸᬄ ᬓᭀᬫᬂ ᬫᭂᬦᬫᬇᬜ ᬓᬶᬘᬶᬓ᭄᭟ ᬲᭂᬢᬶᬅᬧ᭄ ᬧᬕᬶ ᬇᬅ ᬫᭂᬫᭂᬭᬶ ᬓᬶᬘᬶᬓ᭄ ᬩᬶᬚᬶ-ᬩᬶᬚᬶᬅᬦ᭄ ᬲᬫᬶᬮ᭄ ᬫᭂᬗᬫᬢᬶ ᬳᬸᬢᬦ᭄ ᬬᬂ ᬲᭂᬫᬓᬶᬦ᭄ ᬩᬜᬓ᭄ ᬤᬶᬧᭂᬦᬸᬳᬶ ᬲᬫᬄ ᬲᭂᬢᭂᬮᬄ ᬭᬫᬇ ᬤᬶᬓᬸᬜᬸᬗᬶ ᬯᬶᬲᬢᬯᬦ᭄᭟ ᬇᬅ ᬮᬮᬸ ᬫᭂᬗᬚᬓ᭄ ᬢᭂᬫᬦ᭄-ᬢᭂᬫᬦ᭄ᬜ ᬫᭂᬫᬸᬅᬢ᭄ ᬢᬦ ᬩᭂᬭ᭄ᬕᬫᬃ ᬤᬉᬦ᭄ ᬤᬦ᭄ ᬩᬸᬭᬸᬂ᭟ ᬫᭂᬭᭂᬓ ᬫᭂᬮᭂᬢᬓ᭄ᬓᬦ᭄ ᬢᭂᬫᬢ᭄ ᬲᬫᬄ ᬩᬫᬸ ᬤᬶ ᬩᭂᬩᭂᬭᬧ ᬢᬶᬢᬶᬓ᭄ ᬤᬦ᭄ ᬫᭂᬜᭂᬮᬲ᭄ᬓᬦ᭄ ᬓᭂᬧᬤ ᬧᭂᬗᬸᬜᬸᬂ ᬫᭂᬗᬧ ᬧ᭄ᬮᬲ᭄ᬢᬶᬓ᭄ ᬤᬧᬢ᭄ ᬫᭂᬮᬸᬓᬇ ᬲᬢ᭄ᬯ᭟

ᬧᬤ ᬳᬭᬶ ᬓᭂᬢᬸᬚᬸᬄ᭞ ᬓᬶᬘᬶᬓ᭄ ᬫᬸᬮᬇ ᬫᭂᬗᭂᬧᬓ᭄ᬓᬦ᭄ ᬲᬬᬧ᭄᭟ ᬓᭂᬢᬶᬓ ᬤᬶᬮᭂᬧᬲ᭄ᬓᬦ᭄᭞ ᬩᬸᬭᬸᬂ ᬇᬢᬸ ᬢᬶᬤᬓ᭄ ᬮᬗ᭄ᬲᬸᬂ ᬧᭂᬭ᭄ᬕᬶ᭟ ᬇᬅ ᬢᭂᬭ᭄ᬩᬂ ᬭᭂᬦᬄ ᬫᭂᬦᬸᬚᬸ ᬩᬕᬶᬅᬦ᭄ ᬳᬸᬢᬦ᭄ ᬬᬂ ᬚᬭᬂ ᬤᬶᬮᭂᬯᬢᬶ ᬑᬭᬂ᭟ ᬮᬸᬄ ᬓᭀᬫᬂ ᬫᭂᬗᬶᬓᬸᬢᬶᬜ ᬤᬦ᭄ ᬫᭂᬦᭂᬫᬸᬓᬦ᭄ ᬲᬮᬸᬭᬦ᭄ ᬅᬇᬃ ᬓᭂᬘᬶᬮ᭄ ᬢᭂᬭ᭄ᬢᬸᬢᬸᬧ᭄ ᬢᬸᬫᬸᬓᬦ᭄ ᬲᬫᬄ᭟ ᬅᬇᬃ ᬬᬂ ᬲᭂᬳᬭᬸᬲ᭄ᬜ ᬫᭂᬗᬮᬶᬃ ᬓᭂ ᬲᬯᬄ ᬢᭂᬭ᭄ᬢᬳᬦ᭄ ᬤᬦ᭄ ᬫᬸᬮᬇ ᬩᭂᬭ᭄ᬩᬉ᭟ ᬇᬅ ᬲᭂᬕᭂᬭ ᬫᭂᬫᬗᬶᬮ᭄ ᬯᬭ᭄ᬕ᭟ ᬩᭂᬭ᭄ᬲᬫ-ᬲᬫ ᬫᭂᬭᭂᬓ ᬫᭂᬫᭂᬭ᭄ᬲᬶᬳ᭄ᬓᬦ᭄ ᬲᬮᬸᬭᬦ᭄ ᬤᬦ᭄ ᬫᭂᬫᬸᬅᬢ᭄ ᬧᬕᬃ ᬲᭂᬤᭂᬭ᭄ᬳᬦ ᬅᬕᬃ ᬲᬫᬄ ᬢᬶᬤᬓ᭄ ᬓᭂᬫᬮᬶ ᬫᬲᬸᬓ᭄᭟

ᬩᭂᬩᭂᬭᬧ ᬫᬶᬗᬸ ᬓᭂᬫᬸᬤᬶᬅᬦ᭄᭞ ᬲᬯᬄ ᬓᭂᬫᬮᬶ ᬫᭂᬦᬧᬢ᭄ ᬅᬇᬃ ᬬᬂ ᬘᬸᬓᬸᬧ᭄᭟ ᬓᬶᬘᬶᬓ᭄ ᬲᭂᬭᬶᬂ ᬢᭂᬭ᭄ᬮᬶᬳᬢ᭄ ᬩᭂᬭ᭄ᬢᭂᬗᭂᬃ ᬤᬶ ᬤᬳᬦ᭄ ᬤᭂᬓᬢ᭄ ᬧᬸᬭ᭞ ᬲᭂᬑᬮᬄ ᬫᭂᬗᬯᬲᬶ ᬳᬸᬢᬦ᭄᭟ ᬮᬸᬄ ᬓᭀᬫᬂ ᬢᬶᬤᬓ᭄ ᬧᭂᬭ᭄ᬦᬄ ᬫᭂᬜᭂᬩᬸᬢ᭄ ᬤᬶᬭᬶᬜ ᬧᭂᬜᬕ ᬳᬸᬢᬦ᭄᭟ ᬇᬅ ᬳᬜ ᬩᭂᬭ᭄ᬓᬢ ᬩᬳ᭄ᬯ ᬳᬸᬢᬦ᭄ ᬫᭂᬜᬕ ᬫᬦᬸᬲᬶᬅ ᬲᭂᬢᬶᬅᬧ᭄ ᬳᬭᬶ᭞ ᬲᭂᬳᬶᬗ ᬫᬦᬸᬲᬶᬅ ᬲᭂᬳᬭᬸᬲ᭄ᬜ ᬫᭂᬮᬓᬸᬓᬦ᭄ ᬳᬮ᭄ ᬬᬂ ᬲᬫ᭟ ᬲᭂᬚᬓ᭄ ᬇᬢᬸ᭞ ᬅᬦᬓ᭄-ᬅᬦᬓ᭄ ᬤᭂᬲ ᬫᭂᬫᬶᬮᬶᬓᬶ ᬚᬤ᭄ᬯᬮ᭄ ᬩᭂᬭ᭄ᬕᬶᬮᬶᬭᬦ᭄ ᬉᬦ᭄ᬢᬸᬓ᭄ ᬫᭂᬫᭂᬭᬶᬓ᭄ᬲ ᬓᭂᬩᭂᬭ᭄ᬲᬶᬳᬦ᭄ ᬚᬮᬦ᭄ ᬲᭂᬢᬧᬓ᭄ ᬤᬦ᭄ ᬲᬮᬸᬭᬦ᭄ ᬅᬇᬃ᭟

Transliterasi Latin Lengkap

Teks Latin ini menjadi pasangan paragraf dari naskah aksara di atas.

Di pinggir Desa Taman Sari terdapat hutan kecil yang mengelilingi sebuah pura tua. Luh Komang sering menemani kakeknya membersihkan jalan setapak menuju pura. Kakek selalu berpesan bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan rumah bagi burung, kupu-kupu, tupai, dan sumber air yang menghidupi sawah warga.

Suatu sore, Luh Komang mendengar suara lirih dari bawah pohon beringin. Seekor burung kecil berwarna cokelat terjatuh dari sarangnya. Salah satu sayapnya terkena getah dan bulunya dipenuhi serpihan plastik. Luh Komang membawanya ke bale kecil, membersihkan sayapnya dengan air hangat, lalu membuat tempat istirahat dari anyaman daun kelapa.

Selama beberapa hari, burung itu belum dapat terbang. Luh Komang menamainya Kicik. Setiap pagi ia memberi Kicik biji-bijian sambil mengamati hutan yang semakin banyak dipenuhi sampah setelah ramai dikunjungi wisatawan. Ia lalu mengajak teman-temannya membuat tanda bergambar daun dan burung. Mereka meletakkan tempat sampah bambu di beberapa titik dan menjelaskan kepada pengunjung mengapa plastik dapat melukai satwa.

Pada hari ketujuh, Kicik mulai mengepakkan sayap. Ketika dilepaskan, burung itu tidak langsung pergi. Ia terbang rendah menuju bagian hutan yang jarang dilewati orang. Luh Komang mengikutinya dan menemukan saluran air kecil tertutup tumpukan sampah. Air yang seharusnya mengalir ke sawah tertahan dan mulai berbau. Ia segera memanggil warga. Bersama-sama mereka membersihkan saluran dan membuat pagar sederhana agar sampah tidak kembali masuk.

Beberapa minggu kemudian, sawah kembali mendapat air yang cukup. Kicik sering terlihat bertengger di dahan dekat pura, seolah mengawasi hutan. Luh Komang tidak pernah menyebut dirinya penjaga hutan. Ia hanya berkata bahwa hutan menjaga manusia setiap hari, sehingga manusia seharusnya melakukan hal yang sama. Sejak itu, anak-anak desa memiliki jadwal bergiliran untuk memeriksa kebersihan jalan setapak dan saluran air.

Ringkasan Bahasa Indonesia

Penjaga Hutan dan Burung Kecil adalah dongeng anak orisinal yang berlatar di Bali. Cerita ini mengangkat nilai budaya, kepedulian, dan tanggung jawab. Pesan utamanya adalah: Menjaga alam dapat dimulai dari tindakan kecil, dilakukan dengan sabar, dan mengajak orang lain bekerja bersama.

Pesan MoralMenjaga alam dapat dimulai dari tindakan kecil, dilakukan dengan sabar, dan mengajak orang lain bekerja bersama.
Ilustrasi Penjaga Hutan dan Burung Kecil, bagian pertama
Luh Komang merawat burung kecil yang terluka. Sumber ilustrasi: ilustrasi mockup berbantuan AI.
Ilustrasi Penjaga Hutan dan Burung Kecil, bagian kedua
Anak-anak desa membersihkan saluran air di hutan. Sumber ilustrasi: ilustrasi mockup berbantuan AI.
← Petualangan di Lereng Gunung Cerita dari Rumah Panggung →